Rabu, 24 Februari 2016

Menghadapi Homoseksualitas: Sudut Pandang Islam

Menghadapi Homoseksualitas: Sudut Pandang Islam


Kampanye penolakan LGBT (lesbiangaybisexual, dan transgender) semakin marak; tapi masih menyisakan pertanyaan: apakah itu hanya efektif untuk mencegah atau menyelesaikan permasalahan? Aksi penolakan yang dilakukan oleh banyak masyarakat harus memperjelas dan mempertegas objek penolakan: apakah penolakan terhadap LGBT yang dimaksud adalah perilaku ataukah justru pelaku? Menurut Islam, larangan terhadap hubungan intim sejenis sudah jelas sebagaimana dinyatakan dalam Alquran.
Nabi yang bernama Lut pernah berkata kepada kaumnya, “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan tidak senonoh dan kotor itu padahal kamu menyaksikannya? Mengapa kalian mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsu dan bukan mendatangi wanita?” Terakhir, sebelum menutup pertanyaannya, Lut juga mengingatkan, “Sebenarnya kalian adalah orang-orang yang tidak mengetahui akibat dari perbuatan kalian sendiri.” (QS. 27: 54-55)
Islam tidak sendiri. Sama seperti semua agama besar di dunia ini, posisi Islam terhadap homoseksualitas sangat jelas—membenci dan secara moral dilarang keras . Namun, interaksi terhadap homoseks dalam masyarakat merupakan isu lain. Kita sering berusaha untuk memutuskan sendiri bagaimana seharusnya kita berhubungan dengan mereka yang sebenarnya juga bagian dari masyarakat. Ada yang sangat terganggu oleh homoseksual sehingga menghindari segala urusan dengan pelakunya. Menjauh dianggap sebagai satu-satunya cara paling tepat. Sementara kelompok lain mungkin terlalu berlebihan dengan mengingkari eksistensi mereka. Banyak pula yang mengabaikan kecenderungan seksual mereka dan memilih untuk tidak peduli atau pura-pura tidak tahu.
Pertanyaannya, perilaku bagaimana yang tepat untuk berinteraksi dengan mereka di masyarakat? Apakah sudah tepat untuk menjadikan homoseks sebagai teman? Atau karena dosa mereka begitu besar, sehingga kita harus menghindari setiap interaksi dengan mereka dan orang-orang yang menyebarkannya?
Ucapan Imam Ali a.s. menjadi penting dalam hal ini: “Manusia terdiri dari dua kelompok—saudara-saudara kalian dalam keimanan atau yang sama seperti kalian dalam kemanusiaan.” Meskipun perilaku homoseksual ditolak keras, kita harus menghindar dari penolakan terhadap homoseksual sebagai seorang individu, dan terlebih lagi menghindari penolakan terhadap pembenaran yang keliru ini. Pada saat yang sama, penting untuk diingat bahwa Islam mendorong kita untuk berhati-hati atas siapa yang kita ikuti. Nabi saw. mengingatkan, “Seseorang selalu meniru pemikiran dan keyakinan dari teman dan rekannya.” Sehingga, di tempat kerja, sekolah, atau dalam segala aspek kehidupan kita, akan menjadi bijak bagi orang beriman untuk membatasi keterlibatan dan interaksi dengan homoseks hingga ke tahap yang sangat-sangat dibutuhkan.
Tentu sebagai muslim, kita harus menghormati kemanusiaan mereka dan menahan diri dari segala bentuk permusuhan, namun kita juga harus memastikan diri untuk tidak memberikan kesan bahwa kita menyetujui perbuatan mereka, atau bahkan menerima mereka. Homoseksual pada saat ini membangun kelompok lobi dan agen-agen yang kuat serta memiliki hubungan penting terhadap kekuatan politik dan sosial, yang secara kolektif bekerja keras untuk menjadikan homoseksualitas dapat diterima dan menjadi gaya hidup yang sah. Mereka memengaruhi fenomena ini ke dalam masyarakat sampai pada tahap siapapun yang menentang perbuatan tersebut, maka secara otomatis akan dicap sebagai orang yang intoleran dan dicurigai.
Penting bagi setiap orang untuk waspada di dalam masyarakat dan menjauhkan diri dari langkah-langkah yang dapat menjerumuskan kita ke dalam masalah. Namun, pada tingkat individu, kita harus tetap melawan sebuah penyimpangan yang terus-menerus dipaksakan kepada kita. Sekali lagi, perlawanan tidak harus dilakukan dalam bentuk penyerangan atau kebencian terhadap setiap individu atau kelompok masyarakat, tapi melalui prinsip dan ketegasan untuk melawan masyarakat yang mengatasnamakan nilai-nilai “modernitas” dan “progresif” untuk membangkitkan penerimaan terhadap homoseksualitas.
Inilah perilaku yang kita ajukan ketika berurusan dengan homoseks non-muslim. Tapi sayangnya, akhir-akhir ini terjadi peningkatan jumlah homoseks muslim; banyak di antaranya berusaha untuk menghilangkan tabu dan menyatakan bahwa hal tersebut dibolehkan secara Islam. Perilaku ini tidak hanya menyebar luas di masyarakat muslim seluruh dunia, tapi umat muslim dengan santai menunjukkan homoseksualitas mereka di hadapan publik. Bagi muslim kebanyakan perilaku tersebut sangat menganggu, dan usaha untuk mencari cara bagaimana menghadapi homoseks “beriman” ini menjadi tugas melelahkan bagi semua orang.
Tentu kita mempunyai tanggung jawab untuk menjalankan nahi mungkar—mencegah orang lain melakukan perbuatan jahat. Namun kita harus ingat bahwa ada beberapa kondisi yang harus dipenuhi agar amar makruf nahi mungkar menjadi wajib bagi seseorang. Dalam setiap bentuk nahi mungkar, Islam mengajarkan agar kita harus yakin terhadap adanya kemungkinan pengaruh positif terhadap orang yang kita tuju—terlepas seberapa kecil kemungkinan tersebut. Kemudian, jika terdapat risiko dalam menegakkan nahi mungkar, seperti menjadikan iman kita dalam bahaya, membahayakan nilai-nilai yang kita miliki, atau menjadikan kita dalam keadaan kebingungan, maka kita tidak harus melakukannya.
Meskipun keyakinan dan kepastian setiap orang berbeda-beda, namun sebagai sebuah aturan umum kita hanya diwajibkan berusaha untuk menuntun mereka hanya jika kita sendiri benar-benar yakin bahwa kita tidak akan terpengaruh oleh argumen mereka dan percaya bahwa kita memiliki kepastian spiritual dan kapasitas intelektual yang dibutuhkan untuk melawan argumen mereka dan mempengaruhi mereka untuk mengubah jalan hidup mereka.
Sayangnya, ada sejumlah homoseksual muslim (dan kelompok muslim) yang berusaha untuk memutarIslam dengan tujuan membenarkan perilaku mereka dan mendukung mereka dalam wilayah publik. Karena bentuk perlawanan terhadap nilai (kebenaran) diperjuangkan, kita punya tanggung jawab untuk mempertahankan Islam yang sebenarnya dan menjamin perlindungan nilai-nilai Ilahi—dengan harmonis, kebijaksanaan, dan keyakinan.
Bagi para homoseks “beriman”, kita harus memberi tahu bahwa kasih sayang Allah tidaklah memihak. Allah akan mengubah kondisi suatu kaum hanya jika mereka berusaha untuk merubahnya (QS. 13: 11). Berjuang dan mempertahankan hal-hal yang menyucikan hati dan mengangkat jiwa manusia, bukan hawa nafsu yang menimbulkan dosa, dan mewujudkannya dalam perbuatan dan membiarkannya bertahan. Kita harus berusaha untuk menegaskan hal ini, bersama dengan kenyataan bahwa agama kita adalah yang mengatur hidup kita, dan dari Islamlah kita mendapatkan nilai-nilai tersebut.

Sumber: The Awaited One Foundation and/or its suppliers. All rights reserved.

Sejarah Asal -usul Kota Kudus

                       Sejarah Asal -usul Kota Kudus

Sejarah Kota Kudus tidak terlepas dari Sunan Kudus. Karena keahlian dan ilmunya, maka Sunan Kudus diberi tugas memimpin para Jamaah Haji, sehingga beliau mendapat gelar “Amir Haji” yang artinya orang yang menguasai urusan para Jama’ah Haji. Beliau pernah menetap di Baitul Maqdis untuk belajar agama Islam. Ketika itu disana sedang berjangkit wabah penyakit, sehingga banyak orang yang mati. Berkat usaha Ja’far Shoddiq, wabah tersebut dapat diberantas.
Atas jasa-jasanya, maka Amir di Palestina memberikan hadiah berupa Ijazah Wilayah, yaitu pemberian wewenang menguasai suatu daerah di Palestina. Pemberian wewenang tersebut tertulis pada batu yang ditulis dengan huruf arab kuno, dan sekarang masih utuh terdapat di atas Mihrab Masjid Menara Kudus (lihat gambar).

Peran Sunan Kudus

Sunan Kudus memohon kepada Amir Palestina yang sekaligus sebagai gurunya untuk memindahkan wewenang wilayah tersebut ke pulau Jawa. Permohonan tersebut dapat disetujui dan Ja’far Shoddiq pulang ke Jawa. Setelah pulang, Ja’far Shoddiq mendirikan Masjid di daerah Kudus pada tahun 1956 H atau 1548 M. Semula diberi nama Al Manar atau Masjid Al Aqsho, meniru nama Masjid di Yerussalem yang bernama Masjidil Aqsho. Kota Yerussalem juga disebut Baitul Maqdis atau Al-Quds. Dari kata Al-Quds tersebut kemudian lahir kata Kudus, yang kemudian digunakan untuk nama kota Kudus sekarang. Sebelumnya mungkin bernama Loaram, dan nama ini masih dipakai sebagai nama Desa Loram sampai sekarang. Masjid buatan Sunan Kudus tersebut dikenal dengan nama masjid Menara di Kauman Kulon. Sejak Sunan Kudus bertempat tinggal di daerah itu, jumlah kaum muslimin makin bertambah sehingga daerah disekitar Masjid diberi nama Kauman, yang berarti tempat tinggal kaum muslimin.

Cerita Rakyat
Ada cerita rakyat di Kudus tentang 'apa sebab masyarakat Kudus sampai sekarang tidak menyembelih sapi'?. Sebelum kedatangan Islam, daerah Kudus dan sekitarnya merupakan Pusat Agama Hindu. Dahulu Sunan Kudus ketika dahaga pernah ditolong oleh seorang pendeta Hindu dengan diberi air susu sapi. Maka sebagai rasa terima kasih, Sunan Kudus waktu itu melarang menyembelih binatang sapi dimana dalam agama Hindu, sapi merupakan hewan yang dimuliakan.

Hari Jadi Kota Kudus
Hari Jadi Kota Kudus di tetapkan pada tanggal 23 September 1549 M dan diatur dalam Peraturan Daerah (PERDA) No. 11 tahun 1990 tentang Hari Jadi Kudus yang di terbitkan tanggal 6 Juli 1990 yaitu pada era Bupati Kolonel Soedarsono. Hari jadi Kota Kudus dirayakan dengan parade, upacara, tasyakuran dan beberapa kegiatan di Al Aqsa / Masjid Menara yang dilanjutkan dengan ritual keagamaan seperti doa bersama dan tahlil.   

  

Kenapa Kita Harus Mencintai Anak Yatim Piatu ?

Kenapa Kita Harus Mencintai Anak Yatim Piatu ?


Setelah kemarin sempat menulis tentang anak yatim piatu, bukan pada artian sebenarnya. Ternyata mengusik saya untuk lebih mengetahui beragam hal dibalik keutamaan anak yatim piatu. Terlebih saat mengetahui bahwa kata “Yatim” disebutkan dalam Al Quran sebanyak 23 kali. Ini menandakan besarnya perhatian agama yang saat ini sedang dalam kenikmatan bulan Ramadhan. Juga pada catatan kemarin, saya menyebutkan bahwa Rasulullah saw sangat mencintai anak yatim piatu.


Anak Yatim Piatu adalah Jalan Bagi Umat Muslim Untuk Menjadi Pendamping Rasulullah saw di Surga
Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw mengatakan “Aku dan orang memelihara anak yatim piatu seperti ini” sambil mengangkat dua jari, telunjuk dan jari tengah bersamaan.
Anak Yatim Piatu adalah Obat.

Pernah ada seorang pemuda menemui Rasulullah saw untuk mengeluhkan hatinya yang sedang risau dan cenderung bersikap kasar. Rasulullah saw berkata pada pemuda itu, “Maukah hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, berilah makan dia dari apa yang menjadi makananmu. Pasti hatimu akan lembut dan kebutuhanmu akan terpenuhi (HR. Ath Tharbani, dihasanahkan oleh Al Albani)
Anak Yatim Piatu merupakan Sumber Pahala yang Sangat Besar
Nabi Muhammad saw juga pernah mengatakan, “Barang siapa yang mengusap kepala anak yatim, karena Allah, maka ia mendapat pahala setiap lembar rambut yang diusapnya itu satu banyak kebaikan (HR. Ahmad)
Dari beberapa riwayat ini saja, kita bisa merasakan betul keutamaan dari mencintai anak yatim piatu. Semakin besar cinta kita terhadap anak yatim, maka semakin besar pula pahala, kebaikan, kebahagiaan, dan kemakmuran yang dijanjikan kepada kita sebagai umat muslim.

Anak yatim piatu, mereka tidak mempunyai ayah dan ibu yang seringkali tergambarkan dalam benak kita sebagai sosok yang penuh kepedihan, tanpa masa depan, terabaikan. Bahkan hampir-hampir menyamakannya seperti layaknya gelandangan (dalam opini saya), ternyata menjanjikan berbagai macam kebaikan yang seharusnya layak digali sebagai sumber kekayaan masa depan kita kelak.

Banyak anak yatim piatu disekitar kita. Begitupula dengan yang peduli dengan masa depan mereka. Mulai dari perorangan yang secara pribadi merawat dan mendidik anak yatim piatu, hingga badan amal dan lembaga zakat berskala besar yang juga tidak henti-hentinya mengumpulkan dana untuk kebutuhan khususnya bagi anak yatim piatu.

Jadi saya tidak perlu mengumbar semangat untuk mengajak Anda menyantuni anak yatim piatu. Karena saya sangat yakin sudah banyak yang melakukan itu.

Perhatian saya disini masih terkait dengan catatan saya kemarin. Yakni bagaimana kita, sebagai orang tua, mau memberikan perhatian khusus terhadap kompetensi kita sebagai orang tua “super” sehingga mampu melangkapi kebahagian anak. Sehingga mereka tidak merasa yatim piatu akibat orang tua yang tidak peduli, memberi kasih sayang, pendidikan layak, hak untuk bertumbuh dan kebahagian seutuhnya.

Seperti beberapa sabada Rasulullah saw yang saya tuliskan diatas. Ketika kita peduli pada anak yatim piatu, begitu besar kebaikan yang bisa kita raih. Tapi, bagaimana mungkin kita mampu melakukan hal itu secara sempurna kalau terhadap darah daging sendiri saja masih belum sepenuhnya bisa?

Mengapa sedekah itu jadi penting?

Mengapa sedekah itu jadi penting?

Ustadz Yusuf Mansur 

Presiden Sampai Rakyat, Semua Perlu Bersedekah ''Sedekah merupakan jawaban semua permasalahan. Sedekah itu tak ada lawan. Tak ada persoalan apa pun yang tidak selesai, selama kita melibatkan Allah. Caranya, antara lain melalui sedekah.'' Kalimat-kalimat di atas kerap kali dilontarkan oleh Ustad Yusuf Mansur dalam setiap ceramah-ceramahnya. Ustadz muda itu memang selalu mengusung tema sedekah dalam setiap dakwahnya, baik melalui ceramah, buku, kolom di media massa, maupun sinetron Maha Kasih yang ditayangkan di RTCI setiap Sabtu malam. Sehebat apakah sedekah itu? Mengapa sedekah jadi begitu penting? Apakah sedekah mampu menyelesaikan persoalan bangsa Indonesia yang sudah hampir satu dekade dirundung krisis? Berikut wawancara Irwan Kelana, dengan Pimpinan Pondok Pesantren Darul Quran/Tahfiz Quran Cipondoh, Tangerang itu: Apakah sedekah itu?Sebetulnya konsep sedekah itu seperti kata Nabi, ''Setiap amal yang baik adalah sedekah.'' Bahkan, kata Rasulullah, ''Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.'' Jadi, tidak hanya materi atau harta saja. Seperti firman Allah dalam Alquran, ''... berjuanglah (bersedekahlah) dengan hartamu dan jiwamu.''Mengapa sedekah itu jadi penting? Kalau manusia tahu, sesungguhnya dialah yang butuh sedekah. Mengapa? Sebab, sedekah merupakan bagian dari upaya tazkiyatun nafs(membersihkan diri, lahir-batin). Kita butuh sedekah, sebab sedekah itu akan kembali kepada kita dalam beragam bentuk. Posisi sedekah itu sangat istimewa. Sedekah merupakan ibadah yang utama. Bahkan dalam Alquran, perintah bersedekah itu menggunakan huruf wawu atof. Artinya sesuatu yang terikat sekali, merupakan perintah yang sangat penting. 
Firman Allah, ''Wahai orang-orang yang beriman, (sebagai syarat keimanan mereka), maka dirikanlah shalat dan sedekahkanlah sebagian dari rezeki yang datangnya dari Allah SWT.'' Kedua prsayarat itu ibarat baju dan celana. Baju saja, tanpa celana, tidak pantas. Begitu pula, celana saja, tanpa baju, juga tidak sempurna. Imam Ghazali mengatakan, manusia itu terbagi menjadi empat golongan. Yakni, manusia yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, manusia yang tidak tahu tapi tahu bahwa dirinya tidak tahu, manusia yang tahu tapi dirinya tidak tahu bahwa dirinya tahu, dan manusia yang tahu dan tahu bahwa dirinya tahu.'' Kalau sudah sampai ke maqam yang keempat, maka ia akan menjadi Muslim yang sangat baik, salah satu tandanya adalah gemar bersedekah.Berapa ayat Alquran dan hadis Rasulullah yang memerintahkan soal sedekah ini? Salah satu ayat utama yang paling sering saya bacakan adalah QS Ath-Talaq ayat 5.''Dan hendaklah orang yang disempitkan rezekinya bersedekah.'' Hadis-hadis tentang sedekah begitu banyak dan bertebaran. Salah satunya, hadits Rasulullah saw yang menyatakan bahwa sedekah itu dapat menolak bala.''Bersegeralah untuk bersedekah. Sebab, yang namanya bala tidak bisa mendahului sedekah.'' Hadis lainnya, ''Tidak akan berkurang rezeki ornag yang bersedekah, kecuali bertambah, bertambah, bertambah.''
Apa saja keutamaan sedekah? Paling tidak, ada empat keutamaan sedekah. Pertama, mengundang datangnya rezeki. Kedua, menolak bala. Ketiga, menyembuhkan penyakit. Keempat, menambah umur. Allah berjanji dalam Alquran, bahwa Sedekah itu tidak mungkin tidak dibayar. Seperti menanam di kebun Allah, pasti berbuah. Menanam di kebun sendiri saja berbuah, apalagi di kebun Allah. Kalaupun buahnya tidak lebat, paling tidak pasti berkembang. Kalaupun Allah tidak menurunkan hujan lebat, paling tidak hujan gerimis.Kisah-kisah dalam sinetron Maha Kasih diilhami oleh kisah nyata jamaah Anda. Anda menampung banyak testimoni tentang keutamaan sedekah ya?Begitulah. Suatu hari ada seorang pedagang datang kepada salah seorang staf saya. Ia mengaku punya utang Rp 30 juta, dan tak tahu lagi ke mana harus mencari uang untuk melunasi utangnya. Oleh staf saya, ia disuruh sedekah. Apa yang bisa dilakukannya? Ia mengaku tak punya sesuatu yang berharga untuk dijual. Akhirnya staf saya menganjurkan agar ia menjual motor vespanya dan menyedekahkan hasilnya. Ternyata, pada saat ia sedang menawarkan sepeda motor tersebut, kakaknya yang di Swiss kirim SMS.Isinya menyatakan bahwa ia baru saja mentranfer dana senilai setara dengan Rp 30 juta. Tentang tolak bala. Suatu pagi, seorang ustadz bersedekah kepada ustadz yang lain. Ia tinggal di Tangerang. Menjelang sore hari ia ke Gunung Putri, Bogor, hendak mengajar. Di jalan tol, mobilnya ditabrak orang. Namun mobil tersebut tidak rusak. Sebaliknya, mobil yang menabrak rusak berat. Pemilik mobil heran dan bertanya kepadanya, ''Kok mobil kamu tidak apa-apa?'' Dijawab, ''Mungkin karena tadi pagi saya bayar asuransi sedekah.'' 
Ada juga cerita seorang pasien yang sudah divonis mati oleh dokter. Karena merasa usianya tidak lama lagi, orang tersebut kemudian berusaha untuk menjadikan sisa umurnya untuk berbuat hal terbaik. Ia mengumpulkan delapan bayi yatim yang masih merah dan merawatnya dengan kasih sayang. Ternyata sampai saat ini ia masih hidup, bahkan menjadi ketua grup senam yang anggotanya lebih 2.000 orang. Bahkan, bayi yang dulu dirawatnya sudah dewasa, dan salah satunya sudah menikah. Keajaiban sedekah itu hanya bisa dirasakan oleh orang yang bersedekah dan ia yakin. Keyakinan itu membawa pengaruh kepercayaan positif kepada Allah SWT.
Anda mengkampanyekan gerakan nasional selamatkan bangsa dengan sedekah. Mengapa Anda begitu yakin sedekah bisa menyelamatkan bangsa? Yakin sekali. Ada sebuah kisah dalam Alquran tentang Nabi Musa yang meminta agar Allah menghilangkan azab dari suatu bangsa. Allah menjawab bahwa azab tersebut sudah telanjur ditetapkan. Namun, rahmat Allah meliputi seluruh bumi ini. Di samping itu, pernyataan Allah yang sangat penting adalah, ''Azab itu tidak akan menimpa orang-orang yang memelihara dirinya, menafkahkan sebagian rezekinya, dan beriman kepada ayat-ayatku.'' Jadi, sedekah bisa menyelamatkan bangsa.Dalam berbagai pengalaman saya mengusung tema sedekah selama ini, sudah banyak keluarga bermasalah yang akhirnya bersatu kembali sebagai berkah sedekah. Demikian pula, sudah banyak perusahaan yang hampir bangkrut, namun akhirnya bisa berjaya kembali berkat sedekah. Logika saya begini. Kalau presiden, para menteri, DPR, pejabat pemerintah sampai yang terkecil, yakni RT-RW plus komponen bangsa ini bersedekah, insya Allah akan lahir energi positif yang dapat membawa bangsa ini keluar dari krisis.

Kisah Sodagar Kaya & Sang Pengemis

Kisah Sodagar Kaya & Sang Pengemis
Kisah Mengharukan,pengemis dan suami
Pada suatu hari sepasang suami isteri sedang makan bersama di rumahnya. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seorang pengemis. Melihat keadaan pengemis itu, si isteri merasa terharu dan dia bermaksud hendak memberikan sesuatu.
Tetapi sebelumnya sebagai seorang wanita yang patuh kepada suaminya, dia meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya, "Suamiku, bolehkah aku memberi makanan kepada pengemis itu ?".

Rupanya suaminya memiliki karakter berbeda dengan wanita itu. Dengan suara lantang dan kasar menjawab, "Tidak usah! usir saja dia, dan tutup kembali pintunya!" Si isteri terpaksa tidak memberikan apa-apa kepada pengemis tadi sehingga dia berlalu dengan kecewa.
Pada suatu hari yang naas, perdagangan lelaki itu jatuh bangkrut. Kekayaannya habis dan ia menderita banyak hutang. Selain itu, karena ketidakcocokan sifat dengan isterinya, rumah tangganya menjadi berantakan sehingga terjadilah perceraian.
Tidak lama sesudahnya bekas isteri yang pailit itu menikah lagi dengan seorang pedagang dikota dan hidup berbahagia. Pada suatu ketika wanita itu sedang makan dengan suaminya (yang baru), tiba-tiba ia mendengar pintu rumahnya diketuk orang. Setelah pintunya dibuka ternyata tamu tak diundang itu adalah seorang pengemis yang sangat mengharukan hati wanita itu. Maka wanita itu berkata kepada suaminya, "Wahai suamiku, bolehkah aku memberikan sesuatu kepada pengemis ini?". Suaminya menjawab, "Berikan makan pengemis itu!".
Setelah memberi makanan kepada pengemis itu isterinya masuk kedalam rumah sambil menangis. Suaminya dengan perasaan heran bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menangis? apakah engkau menangis karena aku menyuruhmu memberikan daging ayam kepada pengemis itu?".
Wanita itu menggeleng halus, lalu berkata dengan nada sedih, "Wahai suamiku, aku sedih dengan perjalanan takdir yang sungguh menakjubkan hatiku. Tahukah engkau siapa pengemis yang ada diluar itu ?............ Dia adalah suamiku yang pertama dulu."
Mendengar keterangan isterinya demikian, sang suami sedikit terkejut, tapi segera ia balik bertanya, "Dan, tahukah engkau siapa aku yang kini menjadi suamimu ini?.................. Aku adalah pengemis yang dulu diusirnya!".
Roda hidup selalu berputar. Anda tidak akan pernah tahu posisi Anda akan diatas atau di bawah.
Renungan :
"Jangan Bersikap Sombong ketika berada diATAS, tebarkan perbuatan baik dimana - mana maka anda akan menerima balasannya"

Keajaiban Sedekah Janji Allah SWT

Keajaiban Sedekah Janji Allah SWT
H. A Pramono, bos Ayam Bakar Mas Mono (ABMM) mengungkapkan salah satu kunci sukses usahanya. pemilik 20 outlet ABMM di Jakarta dan Bogor ini mengaku sudah biasa membuktikan janji Allah SWT melipatgandakan sedekah dengan 10 X lipat hingga 700 X lipat.

Bermula dari seorang office boy disebuah perusahaan swasta Jakarta, pria asal Madiun, Jawa Timur itu mencoba menaklukkan ibu kota. tak betah jadi orang suruhan, Mas Mono yang kini berusia 36 tahun kemudian keluar dan memilih jadi penjual gorengan dari sekolah ke sekolah sekitar Tebet Jaksel hasilnya sehari paling mentok Rp.20 ribu.
Terbakar semangat untuk mengubah nasib, enam bulan setelah menjadi tukang gorengan, Ia banting stir. Ia menggelar lapak di seberang Universitas Sahid Jaksel, dan mulai jualan ayam bakar.
Dengan penuh kesabaran dan keuletan, digelutinya profesi baru tersebut. dari 5 ekor perhari menjadi 20, 30 sampai 80 ekor. tiba-tiba lapaknya kena gusur untuk dijadiakan POM bensin.
Menyadari cobaan adalah bagian dari jalan sukses, Mas Mono kembali bangkit dan berjualan di tempat lain. ketika usaha mulai bangkit kembali, cobaan menghantam, usahanya nyarisbangkrut karena wabah flu burung yang melanda Indonesia. Namun Ia sadar bahwa setiap ikhtiar pasti ada ujiannya sebelum meraih kesuksesan. maka ia jalani terus usahanya sambil menigkatkan amal ibadah, misalnya setiap 10 % keuntungan dijadikan dana sosial. ABMM pun memberi korting 100 % untuk pelanggan yang berkunjung tepat di hari kelahirannya.
Menyimak uraian Ust.Yusuf Mansyur tentang sedekah, Mas Mono tercerahkan bahwa sedekahbukan sekedar zakat (sedekah wajib). BOS ABMM pun giat bersedekah, termasuk mendukung program PPPA Daarul Quran.
Hasilnya, seperti yang dia katakan, Sedekah top tenan. kini, selain mengelola 20 outlet ABMM yang berpusat di Tebet 57 Jakarta Selatan, Mas Mono juga mengembangkan bisnisnya ke usaha lain seperti catering dan warung Bakso Moncrot. salah satu klien cateringnya adalah sebuha perusahaan TV swasta nasional.
Peraih berbagai penghargaan di bidang kewirausahaan UKM (usaha kecil menengah) ini, sangat mendukung sedekah produktif yang digemakan PPPA Daruul Quran.
semoga kita bisa belajar dari Mas Mono. Maha benar Allah